{"id":3017,"date":"2021-02-24T17:18:31","date_gmt":"2021-02-24T17:18:31","guid":{"rendered":"http:\/\/alqudsmalaysia-001-site4.itempurl.com\/?p=3017"},"modified":"2021-06-22T17:07:16","modified_gmt":"2021-06-22T17:07:16","slug":"hubungan-para-sahabat-dengan-masjid-al-aqsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/id\/3017","title":{"rendered":"Hubungan Para Sahabat dengan Masjid Al Aqsa"},"content":{"rendered":"<p><!-- VideographyWP Plugin Message: Automatic video embedding prevented by plugin options. --><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif; color: #0000ff;\"><strong>Dr. Sharif Abushammala<\/strong><br \/>\nCEO of al-Quds Foundation Malaysia<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Ketika berbicara tentang Masjid Al Aqsa dalam Islam, maka kita harus berbicara tentang kedudukan Masjid Al Aqsa dalam pandangan para Sahabat yang telah menemani Nabi Muhammad Saw. Mereka adalah impelementasi nyata terhadap pemahaman Islam pertama terhadap kedudukan Masjid Al Aqsa. Ada begitu banyak literatur dan riwayat yang menjelaskan tentang perhatian para Sahabat terhdapat Masjid Al Aqsa; baik usaha mereka untuk bisa mengunjungi nya, bertanya tentang nya dan bahkan menetap di sana. Di sini kita bisa memaparkan beberapa contoh hubungan para Sahabat dengan Masjid Al Aqsa. Tentu ,tidak diragukan, bahwa pembahasan tentang hal ini lebih besar dan luas daripada hanya merangkum nya dalam tulisan yang terbatas ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\"><b><strong>Abu Dzar Bertanya dan Bertindak &#8230;<\/strong><\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Abu Dzar Al Ghifari adalah salah satu sahabat yang masuk Islam lebih awal (yang keempat atau kelima). Suatu ketika beliau bertanya kepada Nabi Saw: \u201cWahai Rasulullah, masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi? Nabi Saw menjawab: \u201cMasjid Haram.\u201d Dia melanjutkan: \u201cLalu kemudian masjid apa?\u201d Nabi Saw menjawab: \u201cMasjid Al Aqsa.\u201d Kemudian dia bertanya lagi: \u201cBerapa jarak pembangunan antara keduanya?\u201d Nabi Saw menjawab: \u201cEmpat puluh tahun.\u201d Kemudian beliauw saw melajutkan: \u201cDi manapun engkau mendapati waktu shalat telah tiba, maka shalat lah, kerena di dalamnya ada keutamaan.\u201d (HR Bukhori)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Bahkan setelah sekian tahun lamanya (setelah Nabi dan para sahabat di Madinah), masjid Al Aqsa tetap saja berkelindan dalam pikiran Abu Dzar. Seperti yang beliau kisahkan sendiri: \u201cKami ingat suatu ketika kami bertanya kepada Nabi Saw: \u201cMana yang lebih utama, shalat di masjid Nabawi atau di Baitul Maqdis?\u201d Maka Nabi Saw menjawab: \u201cShalat di masjidku (masjid Nabawi) adalah lebih utama empat kali shalat daripada shalat di dalamnya (masjid Al Aqsa), dan ia adalah sebaik-baik tempat shalat.\u201d (HR Thabrani dalam kitab Al Mu\u2019jam Al Awshath, dan dishahihkan oleh Al Albani)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Hubungan Abu Dzar dan masjid Al Aqsa tetap berlanjut, beliau menambahkan: \u201cNabi saw mendatangi ku, ketika itu aku sedang tidur di masjid Nabawi. Lalu Nabi saw membangunkan ku dengan kakinya sembari bertanya: \u201cApakah aku sedang mendapati engaku tidur di masjid ini?\u201d Lalu aku menjawab: \u201cWahai Rasulullah, aku barusan tertidur.\u201d Nabi saw meneruskan bertanya: \u201cApa yang hendak engkau lakukan jika engkau dikeluarkan (diusir) dari masjid ini?\u201d\u00a0 Akupun menjawab: \u201cAku akan pergi ke negeri Syam yang diberkahi (Palestina, pen.).\u201d Beliaupun merespon dengan bertanya :\u201dLalu apa yang hendak engkau lakukan jika engkau diusir dari Syam?\u201d Aku menjawab: \u201cAku berlindung kepada Allah &#8230;\u201d (Disadur dari kitab Tarikh Dimasyq)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Maka riwayat-riwayat tersebut diatas adalah dalil yang menunjukkan adanya perhatian Abu Dzar ra terhadap masjid Al Aqsa, dimana dia meletakkan nya dalam baris teratas daftar prioritasnya. Hal itu juga ditunjukkan oleh sikapnya, di mana ia ikut andil dalam pembebasan masjid Al Aqsa bersama khalifah Umar ra pada tahun 15 H \/ 637 M.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\"><b><strong>Para Sahabat dan Khulafa\u2019 Ar Rasyidun Membebaskan Masjid Al Aqsa<\/strong><\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Banyak riwayat sejarah yang menunjukkan kepada kita berbagai perhatian kepada masjid Al Aqsa dan Baitul Maqdis yang dipelopori oleh para Khulafa\u2019 Ar Rasyidun. Sebut saja Abu Bakar As Shiddiq ra, ketika beliau bergegas mengirimkan pasukan untuk membebaskan negeri Syam. Lalu surat Abu Bakar ra (wafat tahun 13 H \/ 634 M) kepada Khalid bin Walid ra ,yang ketika itu sedang berada di Iraq, yang memintanya untuk menyusul pasukan pembebasan di negeri Syam. Dalam surat tersebut, Abu Bakar ra menyampaikan kepada Khalid bin Walid ra: \u201cBergegaslah engkau untuk bergabung dengan saudara-saudaramu yang sedang berada di negeri Syam. Demi Allah, satu saja desa dari desa-desa yang terdapat di tanah Al Quds dibebeskan oleh Allah, maka hal itu lebih aku cintai daripada satu desa nan megah dari desa-desa yang terdapat di Iraq.\u201d (Ibnu Al Marja: Fadho\u2019il Bayt Al Maqdis)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Lalu Khalifah Umar bin Al Khattab ra, setelah Abu Bakar ra, menyempurnakan misi pembebasan Baitul Maqdis. Dimana beliau merespon permintaan Abu Ubaidah bin Jarrah ra untuk datang sendiri menerima kunci-kunci Baitul Maqdis. Umar bin Khattab juga mempersiapkan masjid Al Aqsa sebagai tempat shalat dan membangunkan, untuk pertama kalinya, sebuah tempat shalat (mushalla) bagi kaum muslimin di area kiblat di masjid Al Aqsa. (untuk informasi lebih tentang Al Aqsa di jaman Khulafa\u2019 Rasyidun, silahkan klik di sini)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\"><b><strong>Para Sahabat Memulai Ihlal Haji dan Umroh dari Masjid Al Aqsa<\/strong><\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Ihlal adalah Talbiyah, di sini bermakna Ihrom, karena para Muhrimin (orang-orang yang telah memakai pakaian Ihrom) meninggikan suara mereka untuk bertalbiyah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Para sahabat sangat menghendaki hal tersebut, dikarenakan keinginan yang kuat untuk memperoleh berkah dari shalat dan ziarah di dua masjid (masjid Al Aqsa dan masjid Haram) sekaligus dalam satu perjalanan. Begitu juga untuk memperoleh ganjaran yang dijanjikan oleh Rasulullah saw bagi orang yang melakukan hal tersebut. Maka jelas ini adalah sunnah yang dicintai. (Untuk informasi lebih tentang Ihlal Haji dan Umroh dari Masjid Al Aqsa dari sisi Fiqh, silahkan klik di sini)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra, salah satu istri Nabi saw, beliau berkata: \u201cAku pernah mendengar Nabi saw bersabda: \u201cBarang siapa yang memulai Ihlal umroh atau haji dari masjid Al Aqsa, maka niscaya Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu.\u201d (HR Abu Dawud, dalam Musnad Imam Ahmad)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Amalan ini dilakukan oleh beberapa sahabat. Sebut saja Ibnu Umar ra di mana beliau pernah melakukan Ihlal umroh dari masjid Al aqsa. Lalu sahabat Sa\u2019ad bin Abi Waqqas, sang panglima perang Qodisiyah, yang datang ke masjid Al Aqsa untuk memulai ihrom umroh dari sana. Begitu juga sahabat Abdullah bin Abi \u2018Ammar dimana beliau mnceritakan: \u201cKami pernah bersama Muadz bin Jabal dan Ka\u2019ab bin Al Khair memulai ihrom untuk umroh dari Baitul Maqdis, dan pemimpin kami ketika itu adalah Muadz bin Jabal. (Terdapat dalam kitab Al Muhalla karya Ibnu Hazm Al Zhahiri). Riwayat-riwayat ini menujukkan kesesuaian antara ketentuan fiqh (tentang ihlal) dengan apa yang dilakukan oleh para sahabat. Beberapa ulama fiqih dan juga tabi\u2019in mengikuti para sahabat dalam hal ini, sebut saja Waqi\u2019 bin Al Jarrah yang memulai ihrom dari Baitul Maqdis menuju Mekkah.\u00a0 Adapun dari para perempuan, sebut saja Ummu Hakim (anak perempuan dari Umayyah bin Al Akhnas) dimana ia bersusah payah mengadakan perjalanan ke Baitul Maqdis, hingga ia akhirnya bisa memulai ihrom untuk umroh dari masjid Al Aqsa setelah mengetahui hadits Ummu Salamah ra di atas.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\"><b><strong>Para Sahabat yang Pergi ke Masjid Al Aqsa<\/strong><\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Dua sahabat yang mulia Ubadah bin Shamit ra dan Syaddad bin Aus ra,\u00a0 hubungan mereka dengan Al Aqsa sungguh masyhur. Makam mereka berdua sampai saat ini masih bisa dilihat di pemakaman gerbang Ar Rahmah yang berdempetan dengan masjid Al Aqsa pada sisi timur. Ubadah bin Shamit ra pernah menjadi pemimpin di Palestina, dimana beliau dan keluarganya menetap di Baitul Maqdis. Beliau menjadikan masjid Al Aqsa sebagai tempat shalat dan mengajar, hingga Allah swt mewafatkan nya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Adapun Syaddad bin Aus ra, beliau menetap di Baitul Maqdis karena arahan Nabi saw ketika suatu ketika beliau mengadu kepada Nabi saw: \u201cDuniaku telah menjadi sempit.\u201d Maka Nabi saw bersabda: \u201cDuniamu tidaklah sempit, karena Syam dan Baitul Maqdis terbuka lebar. Maka engkau dan anakmu akan menjadi pemimpin di sana, insya Allah.\u201d (At Thabrani: Al Mu\u2019jam Al Kabir)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Syaddad ra menetap di Baitul Maqdis dan masjidnya (masjid Al Aqsa) hingga Allah swt wafatkan nya di sana. Beliau juga memiliki banyak sekali keturunan di masjid Al Aqsa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Dari kalangan sahabat bukan hanya Syaddad bin Aus ra saja yang didorong oleh Nabi saw untuk menetap di Baitul Maqdis dan sekitar masjid Al Aqsa. Pun dengan sahabat Dzu Al Ashabi\u2019 At Tamimi ra. Beliau mentaati Nabi saw dan pindah serta hidup di sekitar masjid Al Aqsa. Beliau bercerita: \u201cAku bertanya: \u201cWahai Rasulullah, jika setelah mu kami diuji dengan tempat tinggal, kemana engkau akan perintahkan kami (untuk menetap)?\u201d Nabi saw menjawab: \u201cHendaklah engkau pergi ke Baitul Maqdis. Mudah-mudahan ia bisa memberi mu keturunan yang berkembang di masjid itu dan meramaikan nya.\u201d(Musnad Imam Ahmad)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Adapun sahabat yang mulia, Abdullah bin Umar ra, dia memiliki kasus yang unik dengan masjid Al Aqsa. Ia terbiasa datang ke Baitul Maqdis dari Hijaz. Ia masuk dan shalat di masjid Al Aqsa yang diberkahi. Kemudian ia keluar dan tidak minum seteguk air pun selama ia berada di dalam masjid Al Aqsa. Beliau melakukan itu karena teringat doa Nabi Sulaiman as yang terdapat dalam sebuah hadits: \u201cTatkala Nabi Sulaiman as selesai membangun Baitul Maqdis, dia meminta tiga hal kepada Allah swt; agar Allah menganugerahi nya hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, agar Allah swt memberinya kerajaan (kekuasaan) yang tidak akan pernah dimiliki oleh orang setelahnya, dan agar seseorang yang datang ke masjid Al Aqsa karena hanya ingin shalat disitu dihapus dosa-dosanya laksana sepertibaru dilahirkan dari rahim ibunya. Adapun dua permintaan awal, maka Allah swt kabulkan, dan aku berharap Allah swt akan mengabulkan (permintaan ) yang ketiga.\u201d (HR Ahmad, Nasa\u2019i dan Ibnu Majah)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Para sahabat dan tabi\u2019in hanya mengunjungi masjid Al Aqsa saja dan tidak mengunjungi tempat lain di sekitarnya, seperti daerah Biqa\u2019, Al Khalil ataupun tempat lain. Karena niat meraka hanya untuk mengunjungi masjid Al Aqsa dan shalat di dalamnya. (Ibnu Taimiyah: Majmu\u2019 Al Fatawa; 27-258)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Kitab-kitab sirah melimpah dengan kisah para sahabat yang memiliki ikatan kuat dengan masjid Al Aqsa. Hati dan jasad mereka begitu terpaut dengan masjid Al Aqsa. Sebut saja seperti; Abu Ubaidah bin Jarrah ra, Shafiyyah binti Huyay ra (salah satu istri Nabi saw), Muadz bin Jabal ra, Bilal bin Rabah ra (muazzin Rasul saw, yang menolak untuk azan sepeninggal Nabi saw, kecuali setelah pembebasan Baitul Maqdis), Iyadh bin Ghunm ra, Khalid bin Walid ra, Abu Dzar Al Ghifari ra, Abu Darda\u2019 Uwaimir ra, Ubadah bin Shamit ra, Salman Al Farisi ra, Abu Mas\u2019ud Al Anshari ra, Tamim Ad Dariy ra, Amru bin Ash ra, Abdullah bin Salam ra, Said bin Zaid ra, Syaddad bin Aus ra, Abu Hurairah ra, Abdulllah bin Amru bin Ash ra, Muawiyah bin Abi Sufyan ra, \u2018Auf bin Malik ra, dan Abu Jum\u2019ah Al Anshari ra.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Jika mengamati beberapa sumber sejarah, maka kita bisa mengetahui bahwa ada sembilan sahabat Nabi saw yang dimakamkan di Baitul Maqdis, bersebelahan dengan masjid Al Aqsa, mereka adalah: Ubadah bin Shamit ra, Syaddad bin Aus ra, dan Dzu Al Ashabi\u2019 At Tamimi ra. Dikatakan juga: Al Khaza\u2019i ra, Watsilah bin Al Asqa\u2019 bin Ka\u2019ab bin Amir ra, Salamah bin Qays Al Hadhrami ra, Abu Abdullah Amru bin Ummu Haram Al Anshari ra, Syam\u2019un bin Zaid bin Khanaqah ra, dan Abu Rihanah Al Azdi ra.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\"><b><strong>Shahabiyat (para sahabat perempuan Nabi saw) dan Al Aqsa<\/strong><\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Ada beberapa riwayat yang terkenal yang menjelaskan tentang kepedulian para Shahabiyat terhadap masjid Al Aqsa. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, dari Maimunah ra (salah satu pembantu Nabi saw), ia bertanya kepada Nabi saw: \u201c \u2018Wahai Nabi Allah, beritahukan kami tentang Baitul Maqdis? Beliau saw bersabda: \u2018(Baitul Maqdis) adalah tanah tempat dibangkitkan dan dikumpulkan (pada hari kiamat). Karena itu, handaklah kalian datang dan shalat di dalamnya karena shalat di dalamnya seperti shalat 1000 kali di tempat lain.\u2019 Maimunah kemudian bertanya lagi: \u2018Lalu bagaimana dengan orang yang tak kuasa untuk datang ke Baitul Maqdis? Maka beliau saw menjawab: \u2018Hendaklah ia memberikan minyak kepada nya sebagai penerang, karena barang siapa memberikan sesuatu kepada nya maka itu seperti shalat di dalamnya.\u2019\u201d (Musnad Imam Ahmad)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Adapun Ummu Salamah ra (salah satu istri Nabi saw), beliau benar-benar mengetahui bagaimana Ummu Hakim binti Umayyah bin Al Akhnas ra menindak lanjuti tentang keutamaan masjid Al Aqsa. Ada hadits yang diriwayatkan oleh beliau (Ummu Salamah): \u201cBarang siapa yang melakuan ihlal umroh atau haji dari masjid Al Aqsa, niscaya Allah swt akan mengmpuni dosa-dosanya yang telah lalu.\u201d Rawi (yang meriwaytkan hadits ini) menambahkah: \u201cMaka Ummu Hakim, setelah mendengar hadits ini, pergi menuju Baitul Maqdis dan melakukan ihlal untuk unroh dari sana.\u201d (Musnad Imam Ahmad)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Oleh karena itu, kita melihat bahwa banyak dari para sahabat senior dan sahabat lainnya yang sangat perhatian dengan masjid Al Aqsa. Mereka bertanya semua hal yang berkaitan dengan masjid Al Aqsa, bahkan sampai menetap di sana. Hal itu karena mereka sangat faham tentang kesucian masjid Al Aqsa, pahala karena mengunjungi nya dan keberkahan yang akan diperoleh karena menetap di sekitarnya, mengerjakan sesuatu demi membebaskan, mensucikan dan memakmurkan nya dengan shalat dan majelis ilmu. Maka pemahaman inilah yang hari ini sangat kita butuhkan dalam perjuangan kita dalam membebaskan dan mengembalikan masjid Al Aqsa ke pangkuan kaum muslimin. Agar kemudian ia bisa kembali memiliki kebebasan dan perannya dalam kehidupan kita.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Sharif Abushammala CEO of al-Quds Foundation Malaysia Ketika berbicara tentang Masjid Al Aqsa dalam Islam, maka kita harus berbicara tentang kedudukan Masjid Al Aqsa dalam pandangan para Sahabat yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2842,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"elementor_theme","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[112],"tags":[],"class_list":["post-3017","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-al-aqsha-dalam-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3017","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3017"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3017\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2842"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3017"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3017"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging.aqsapedia.net\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3017"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}